Rabu, 08 Februari 2012

Cerpen Kamu Yang Indah


Kamu yang indah
A.M Lutfi Abdul Aziz

“Hah..., lengket nih belum mandi.”
Mandi menjadi kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan setiap orang, sehari tidak mandi atau berhari-hari bisa menjadi getah keringat dan membuat banyak orang tidak nyaman, tapi memungkinkan juga orang bias dan biasa kalau tidak mandi.
Jam 04.00, pagi yang masih diselimuti gelap langit yang tenang. Hanya beberapa orang yang terbangun atau mungkin sadar utuk bersiap-siap melaksanakan shubuh saat itu.
Fa’er yang berparas tampan bak aktor atau penyanyi jepang berusia 19 tahun itu adalah seorang mahasiswa yang tinggal di rumah kost, sifat penakutnya masih terkadang hadir , sesekali seperti tikus yang mengendap-endap mencari ketenangan hati untuk bisa mendapatkan apa yang Ia inginkan, meski Fa’er bukan seorang lelaki yang baru saja jauh dari rumahnya, Ia terkadang menjadi seorang remaja penakut seperti teman-teman sebayanya yang ada, dan berusaha menjadi lelaki sejati pemberani bila hanya ingin  ingin terlihat, seorang remaja yang ingin dihargai.
Shubuh yang tenang saat itu, Fa’er lebih dahulu terbangun daripada teman- temannya, Ia sadar bahwa waktunya beribadah sudah tidak lama lagi datang, Fa’er duduk dan memperhatikan teman-temannya yang masih terbuai mimpi-mipmpi yang entah apa Fa’er tidak tahu, mungkin saat itu Ia masih mengumpulkan jiwanya sebelum Ia bangun beranjak ke kamar mandi.
Kamar mandi yang malang, gelap, sepi tanpa penghuni tanpa sianr yang menerangi sepanjang waktu. Malam yang menggelapkan, Siang yang masih tak kuasa menerangi dirinya yang tertutup tembok- tembok penghalang tatapan, hanya jatuhan air dari tiap- tiap kran yang ada di 3 kamar mandi itu hanya bisa sedikit memecah kenestapaannya.
Hal yang membuat Fa’er yang baru saja mengumpulkan jiwanya kaget, selangkah yang mendekati perjalanannya menuju kamar mandi seperti membuatnya menjadi tikus yang mencari apa yang Ia mau dengan penuh ketakutan, tubuhnya bergetar. Dan tiba-tiba perutnya ramai dengan suara- suara dadakan isi perut, menandakannya ingin membuang hajat perutnya.
Sejenak Ia terhenti dan berpikir sebelum Ia turun dari tangga yang membatasi keberadaannya dengan kamar mandi karenanya berada di bawah kosan kamar tempat Ia dn teman-temannya tinggal, berpikir dan mendobrak segala ketakuatan lalu mengumpulkan keberanian untuk memecah kegelapannya.
Akhirnya, dalam beberapa menit keberaniannyapun  terkumpul , entah karena darurat yang memaksanya dengan ancaman si kuning di celananya atau Ia telah sadar bahwa Tuhan selalu bersamanya.
Fa’er melangkahkan kaki dan berjalan sampai Ia bisa meraih pintu kamar mandi dengan meraba jalan yang diselimuti gelap menakutkan.
“Aaaaarghhhh... !!!!“,menggelengkan kepala sambil geramnya takut, lalu memegang erat gagang pintu kamar mandi yang telah Ia raih, dan berharap bisa melewati menit- menit buruk yang sedang Ia alami, Ia masuk, menutup pinti dan membuka celana yang menutupi seluruh anggota tubuh bawah perutnya dengantergesa- gesa, mungkin Ia sudah tidak kuat lagi menahan hajatnya walau badan Fa’er dengan otot- otot kuatnya terkadang terlihat seperti Rain yang seorang bintang korea yang sukses memainkan tokoh utama ninja dalam film yang penuh dengan tumpahan darah segar, kepala terlepas dari tubuhnya, tubuh- tubuhnya yang tercincang- cincang membuat orang- orang yang menontonnya tegang, jijik, dan terperangah melihat setiap adegan di film Ninja assasin itu.
Setelah beberapa menit, suara adzan mulai terdengar di berbagai mesjid yang berada dekat dari tempat dimana Ia berada, setelah selesai melaksanakn keterpaksaannya dan bisa menyesuaikan dirinya dengan kamar mandi angker tersebut.
Fa’er mengambil wudhu lalu naik melewati tangga untuk kembali ke kamar  dan melaksanakan shalat shubuh, salah satu dari ibadah 5 waktu yang wajib Ia laksanakan dan yang tidak pernah ingin Ia tinggalkan. Membangunkan kedua temanntya yang mash tertidur lalu siap untuk menghadap robbnya. Do’a yang terucap selesai pelaksanaan shalat, dipenuhi permohonan- permohonannya pada Tuhan yang selalu mendengar dan mengabulkan apa yang Ia pinta.
“ Ya Robbii, ampunilah dosa- dosa yang telah hamba perbuat, tunjukkanlah Aku pada jalan yang benar, jangan biarkan Aku keluar dari jalan lurus yang kau telah bentangkan pada hambaMu sebelumku. Sayangilah Aku dan kedua orang tuaku, mudahkanlah orang tuaku dalam mencari rizqi halalMu, berikanlah mereka kekuatan untuk selalubisa bersabar dn mensyukuri apa yang telah Kau berikan, Tuhanku yangmenguasi siang dan malam, sesungguhnya kami telah mendzolimi diri kami jika kau tidak memaafkan maka sesunggunya kami termasuk orang- orang yang merugi.”
Dalam untaian do’a yang Ia panjatkan dengan segenap pikiran dan perasaannya berharap Tuhan mendengar dan mengabulkannya, seingat dengan ayat yang Ia hapal “’Ud’uunii Astajib lakum”, Mintalah padaKu maka Aku akan mengabulkannya.
Fa’er pun mengakhiri do’anya pada waktu itu dengn membaca surat Al-fatihah lalu bersujud syukur atas nikmat pagi yang Ia rasakan walau Ia harus melawan ketakutan pada dirinya sebelum meraskan pendekatan diri  yang sangat tenang pada Robbnya.
Beberapa surat al-quran yang Ia baca dengan meresapi makna demi makna pada setiap kata yang ada di ayat yang Ia baca. Pagi yang diawali dengan penuh ketakuatan yang telah Ia lewati telah terhapus oleh indahnya pendekatan sebagai hamba pada Robbnya, lalu Fa’er membaca beberapa buku untuk menambahkan pemahamn tentang materi- materi kuliah yang menjadi kewajibannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.20, sungguh waktu yang tak terasa mengalir bagai air , Matahari telah tersenyum menemani hari dengan terang yang manusia harapkan.
Fa’er menyudahi apa yang Ia kerjakan, Ia nyalakan TV, menonton dan mencari berbagai berita pagi itu tentang klub sepak bola inggris yang Ia sukai (liverpool), Karena malem itu Ia tak semapt meonton pertandingannya melawan Manchester city,
Seperyinya pagi itu Ua puas dengan hasil yang liverpool torehkan saat melawan klub sekota Manchester United itu dengan skor 3-0.
Sesekali Ia ganti channel untuk menonton Sponge  bob di Global Tv dan beberapa acara pagi tiap stasion televisi di sela- sela iklan acara Sport7 dan berita- berita olah raga lainnya, tanpa lipa untuk melihat jadwal kuliahnya hari itu.
Jam 07.00, Ia beranjak mandi tanpa meras takut, karena tidak hanya Ia seorang yang ingin mengisi 3 kamar mandi saat itu walau gelap, Fa’er yang antri sambil mengobrol dengan beberapa teman yang juga menunggu antrian, untuk sedikit menghilangkan kaluman ( Bosan dalam Bahasa Sunda).
Akhirnya Ia telah dapat gilirannya dan sedikit berbasa-basi untuk mengakhiri obrolan dengan temannya, Fa’er yang saat itu harus berangkat kuliah jam 08.40, akhirnya mandi karena Ia membutuhkan 15 menit untuk samapai di kampus temapat dimana Ia kuliah. Setelah selesai mandi, Fa’er memilih- milih baju yang akan Ia kenakan hari itu, karena mungkin Ia adalad salah satu lelaki keren di kelasnya.
Fa’er  meinggalkan kosannya melewati kamar mandi yang masih terihat gelap dan mengganggu pemandanangan matanya walau matahari hadir menyelimuti hari dengan terangnya.
Alangkah indah dan bahagianya sore itu, walau hujan yang membasahi tubuh kekarnya dengan gelap awan-awan langit hitam. Sepulangnya kuliah, terlihat 3 kamar mandi yang indah terang nan bersih tersenyum bahagia ketika Fa’er ingin melewatinya dengan seribu tanya, siapa yang telah merubahnya...?????
Walau hanya denngan 2 lampu pada 3 kmar mandi itu, sudah cukup membuat fa’er berpikir indah tentangnya, karena malang yang melanda kamar mandi itu lelah berminggu-minggu murung dilanda gelap,”kamu yang indah!!!”, Fa’er berucap.





Jalanan Riuh Yang Liar

Jalanan Riuh Yang Liar


Kepulan asap jalanan
                      Riang….. rapat teriak jalanan
Sirami lauatan asmara yang liar
                            Coba tuk jejali tekanan
Description: D:\dhie photo shoap\BEST wallpapers\F.S.D (4).jpg                         harum nafsu kelelakian…
Ciumi harum nafsu perawan..
Yang jilati pikiran-pikiran jalang
…….,, lamunan- lamunan setan
Bumbui teriakan – teriakan neraka
Kosong…, melayang…, menyudut… gelap dan terlena…
Ayal hewan berpacu… dan berlari mengejar nafsu yang tak terpenuhi
Racun- racun cinta yang gelap, berbuah jilatan – jilatan api merah
Bakar birahi…. , Rasuki nurani.