Minggu, 12 Mei 2013

Melepas Bunga

Oleh: A.M Lutfi Abdul Aziz

Aku mencintaimu dengan dada yang sesak, dada yang
berat di bawah langit ini, dikelilingi batu di atas tumpukan semak
Aku merindumu diatas daun yang dijatuhi hujan
tergoyahkan setiap waktu di samping bangunan,ditemani ratapan

Terjadi lagi ini, ku kira dulu sudah cukup
Aku mengasihi kelembutan yang menyentuh melengkapi
kekosongan kasar begitu berat terjadi
yang dirampas ketika sudah memanggilnya berada melingkup

Aku kira sudah akan selalu bersama kita
dengan cinta yang ada, bersama meniadakan berat
Memenggal bau pekat, menyanjung lara untuk menjadi teman
di setiap kedatangan duka

Terlalu sulit melepaskan bunga yang telah menyentuhku
memberikan alasan telah dimana aku berdiam terpaku
aku kira siang esok akan menyandingku dengan damai
walau ku tahu, karang dan jurang di depan begitu ramai

aku adu nalar dimana ku paksakan bersama
berpura pura akan kuat walau tak mungkin
bungaku tergenggam selalu, ia dijerat peluk cincin lamaran sebutnya
aku rasa ini akan terlalu pahit, terlalu banyak rasa asin

Babakan Dangdeur, 08 Mei 2013,



Minggu, 07 April 2013

Nilai apa dan yang bagaimana saudara?


Perkantoran
Sekarang apa namanya cerdas, jika perlakuan manusia itu tidak menghargai kecerdasan. Lalu apalagi yang manusia banggakan selain hasil atau nilai jika usaha yang ada, keras, cerdas, dan banyak namun disepelekan. Orang- orang sedang berburu tidak hanya di hutan, tapi juga mereka menjelajah dan menjajah kantor- kantor pekerjaan. Mereka yang berdasi sambil berburu. Muak untuk hal resmi yang jahat ini. Mengelabui hujan untuk tetap panas indah, mengelabui indah dengan mendung di langit-langit perkantoran.  Jam- jam yang dilewati matahari menekuk orang-orang di terik panas jalan sana, mondar mandir di setiap lirikan tajam, sinis, dan menjemukan.
Namun banyak dari mulai anak berumur 3 sampai mereka saat ajal, berharap kebanggan indah, bersih seperti tak banyak kekotoran, padahal tempat itu penuh dengan kebohongan, trik-trik pencatutan memenggal. Apa lagi yang akan terjadi pada kehidupan mulia ini? Prasangka-prasangka tetap saja tidak selalu bisa menjadi baik, saling merasa terancam dan berbalik mengancam seperti pearaduan domba dengan berupa-rupa tanduk di lapangan.
Jika darah masih saja berwarna merah, kenapa harus diwarnakan lain? Berbalut dengan warna, menutupi warna kotoran, hilang kesadaran untuk saling berbagi dan menyadari persamaan. Suara-suara parau,keras, lemah dan tak jelas hadir pada apapun di perkantoran.


Minggu, 30 Desember 2012

The road to Bayah, Cikotok, Malingping through Pelabuhan Ratu.

Sekitar 4 jam, perjalanan menuju rute kaya di photo. ke Maingping, pasir putih dari Bayah 2 jam, perjalanannya lurus, cukup menyenangkan melihat pemandangan pantai, tapi hati hati ya, banyak jurang yang bisa mengancam keselamatan, jangan terlena oleh pemandangannya, hayoo coba dari pada penasaran, dari Pelabuhan Ratu, bisa menikmati, Pantai Supa, Citepus, Cimaja, Karang Hau, Cibangban, Karang Taraje, Bayah, Sawarna, Pulau Manuk, Pasir putih dan yang lainnya. :D




Try this! Poponcol, Tasikmalaya.

Free view to the sea

Liburan yooo, yang lagi nyari tempat untuk berlibur, suka pantai, lihat pemandangan laut,ada salah satu tempat ni, lokasinya lumayan jauh, sekitar 2 jam dari Pangandaran :)))

kalo belum puas di pangandaran, coba lanjut perjalanan ke sebelah kiri bunderan, jalan yang mau keluar dari gapura Pangandaran, jalur ke Cikalong, Tasikmalaya. lewat terminal. dari sana kamu bakal lewatin banyak wisata pantai dan yang lainnya; Green Canyon, Batu hiu, Batu karas,dan tentunya poponcol. lanjut pulang menuju Bandungnya lewat jalur Tasik, jadi ga lewat Banjaran mang bro/ neng bro,, wara wiri nih! ya mudah2n aja bisa dapet perjalanan yang menyenangkan, sedikit curhatnya, saya dan teman2 melewati perjalanan ini,3 motor/6 orang, jalur yang pertama kali saya lalui di daerah ini, berangkat dari Bandung, lewati Garut, Tasik, Banjaran, Ciamis, Pangandaran.

Coral sea with the beautiful waves

Dapetin pengalaman baru yooooo..

MANTAPP, Mangga dicobi!! :D




Puisi Deskriptif


Karanaval Kota
Abdulaziz Lutfi

Jalanan ramai warna warni kendaraan
Macam-macam asap knalpot bermuatan di sepanjang jalan
Yang ku lalui, banjir angkutan
Supir dari mana-mana menggali harta hidup setoran
Ikut dalam keramaian

Sore itu masih terasa segar setelah hujan mengguyur kota
Namun hanya sudah terbiasa terganggu oleh kenakalan manusia
Geser kanan, kiri, atas, bawah, sedikit memojok
Ku ubah spion motor biruku
Buka tutup kaca helm,
 jelas aku tak bisa berbohong
Aku terganggu

Seperti karnaval yang diawasi orang-orang tinggi berompi hijau
Aku patuhi mereka berharap perjalanan nyaman
Sesalku tak terhenti
Jalanan masih saja ramai tak beraturan,
Antrian panjang dengan keegoisan sampai tujuan
Cepat, memanjang, selip
Lampu merah diterobos, lampu hijau dilewati para penyebrang
Mereka yang berompi hijau sedang membuka topi tertawa gembira
Menggoda wanita-wanita kota
Yang mana, yang harus ku ghibahkan lagi
Kota ini seperti hutan berisikan kebuasan
dengan aturan rimbanya

Bandung , 23 December 2012

Puisi kritik

SAMA

Aku berada di tengah- tengah banyaknya orang pintar,
Namun mengapa melihat ketidakadilanpun mereka tak bergetar
Aku dirundung pilu berkeringat dingin demam melihat terlalu banyak sandiwara
Kepintaran mereka menindas kebodohan, bijakku berkata,”wahai Anda, Anda dengan kepintaran, mengapa anda begitu picik  mengarang bangga dengan penindasaan, aku kira adamu karena dengan adanya mereka
Bukan mereka yang tak sepintar dirimu mengalah, bukan mereka tak berdarah
Yang kapanpun bisa memanas berarah
Tapi keadaan ini bukan karangan manusia
Anugrah ini diberikan pada kalian bukan untuk atau dengan sia-sia
Inginku jubah pembeda terobek terlihat sama
Berisikan kesamaan yang memang tak berbeda
Aku rindu kalian yang sama-sama berbagi mungkin secarik kertas
dengan goresan perbedaan yang mengada abadi atas nama yang
Maha Pintar

A.M Lutfi Abdul Aziz


Senin, 04 Juni 2012

puisi bahasa arab bertulisan latin 2


Man uhiibu
Yaa nahaaru
Kaifa tunawwiru naa bighoiri robbin
Al munaawarotu minka tusaa’idunaa na’mal
Fi ruhshotin adhzunnu suu-an

Ahyaa bighori ma-atin uhibbu iyyaa ha
Katsiirun muinha uhibbu duuna fardin
Salnii nafsii wa maa uhibbu hua

puisi modern


Jauh
Mengangguk..
Di bumi ketenangan
Yang diberikan hujan

Mencoba meramaikan hari ini
Dengan sedikit banjir air mata langit

Tak ada debu saat ini
Hanya kolam-kolam kecil robekan bumi
Yang terisi dirinya