Jumat, 25 Mei 2012

Cerita Dia


                Malang
                Di mulai dengan kecurigaan, sepertinya cinta tumbuh dari mata yang melihat,Membuka mata hati yang tertutup beberapa lembar kulit tebal yang ada di dada. Masih ragu menamakannya apa, namun sorotan mata yang ada mengisyaratkan segala yang berbeda. Kalimat-kalimat yang tidak menemukan ujung paragraph masih bersandar di sela tenggorokan, bergantungan pada lak-lakan yang tak terjamah tangan untuk dikeluarkan, lalu membisu. Namun mencinta.
                Entah juga harus bagaimana, kikuk, mati dan memalukan. Melihatnya menjadikanku bodoh ditertawakan beberapa teman. Seolah memang ingin melawan kenyataan yang memilukan seperti ini. Yang aku tahu, hanya cincin saja yang melingkar di jarinya, yang orang sebut sebagai tanda dia akan dimiliki orang yang menjadi pilot penerbang hidupnya,tanpa sedikitpun terlihat bekas-bekas merah dilehernya, yang menjadi tanda ketidak adanya jamahan bibir nafsu sang pilot entah di langit sebelah mana.
                Lelah selalu seperti ini,menjadi abu-abu yang bersanding dengan warna pink dan keanggunan ungu. Dalam sampul yang masih kosong berisikan selembar daftar isi hidup yang menjadikannya peta dimana harapan terbuka diberbagai halaman yang entah akan berapa banyaknya. Sedikit berkomentar, mungkin disebut menggerutu tentang kursi-kursi kuliah yang selalu berganti beda setiap hari, duduk mendengarkan celotehan dosen dengn sopan disebut ceramah mengisi atau berbagi gizi intelektual ku. Tapi entah menjadi apa aku nantinya,Melemahkan diri ini yang memang bertanding dengan orang yang memberikannya cincin pengikat dia yang aku sukai.
                Hari-hari lembut yang terisikan beberapa SMS nya yang konyol menghibur, menyembunyikan kerapuhannya yang tak bisa melawan keadaan yang jelas bukan keadaan yang Siti Nurbaya alami.
                Malang ilalang yang tak bisa pergi ke Malang walau hanya untuk memakan baksonya saat siang. Sebuah kalimat penyayang yang menyampul dirinya saat ini,Bagaimana tidak? Hari- hari mudanya seperti tidak sepenuhnya hanyut untuk dirinya yang masih disebut siang untuk merasakan hal yang sebut saja tidak terlalu mewah untuk semangkok bakso dalam kehidupannya, yang sebut saja tidak terlalu jauh untuk Malang, karena masih di Indonesia, namun dia yang cantik nan malang.
                Menemani dan menguatkannya saat pagi, siang, dan malam. Mengaguminya untuk sebuah misi kehidupan yang besar walau harus tertinggal dan menghilang. Saat ini yang ku tahu dia memang membutuhkan apa yang tak membuatnya tidak terlalu cepat menghadapi malam, yang gelap, tak jelas. Dan saat ini aku masih bersamanya.