Kamu yang indah
A.M
Lutfi Abdul Aziz
Mandi menjadi kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan setiap orang,
sehari tidak mandi atau berhari-hari bisa menjadi getah keringat dan membuat
banyak orang tidak nyaman, tapi memungkinkan juga orang bias dan biasa kalau
tidak mandi.
Jam 04.00, pagi yang masih diselimuti gelap langit yang tenang.
Hanya beberapa orang yang terbangun atau mungkin sadar utuk bersiap-siap
melaksanakan shubuh saat itu.
Fa’er yang berparas tampan bak aktor atau penyanyi jepang berusia 19
tahun itu adalah seorang mahasiswa yang tinggal di rumah kost, sifat penakutnya
masih terkadang hadir , sesekali seperti tikus yang mengendap-endap mencari
ketenangan hati untuk bisa mendapatkan apa yang Ia inginkan, meski Fa’er bukan
seorang lelaki yang baru saja jauh dari rumahnya, Ia terkadang menjadi seorang remaja
penakut seperti teman-teman sebayanya yang ada, dan berusaha menjadi lelaki
sejati pemberani bila hanya ingin ingin
terlihat, seorang remaja yang ingin dihargai.
Shubuh yang tenang saat itu, Fa’er lebih dahulu terbangun daripada
teman- temannya, Ia sadar bahwa waktunya beribadah sudah tidak lama lagi datang,
Fa’er duduk dan memperhatikan teman-temannya yang masih terbuai mimpi-mipmpi
yang entah apa Fa’er tidak tahu, mungkin saat itu Ia masih mengumpulkan jiwanya
sebelum Ia bangun beranjak ke kamar mandi.
Kamar mandi yang malang, gelap, sepi tanpa penghuni tanpa sianr yang
menerangi sepanjang waktu. Malam yang menggelapkan, Siang yang masih tak kuasa
menerangi dirinya yang tertutup tembok- tembok penghalang tatapan, hanya
jatuhan air dari tiap- tiap kran yang ada di 3 kamar mandi itu hanya bisa
sedikit memecah kenestapaannya.
Hal yang membuat Fa’er yang baru saja mengumpulkan jiwanya kaget,
selangkah yang mendekati perjalanannya menuju kamar mandi seperti membuatnya
menjadi tikus yang mencari apa yang Ia mau dengan penuh ketakutan, tubuhnya
bergetar. Dan tiba-tiba perutnya ramai dengan suara- suara dadakan isi perut,
menandakannya ingin membuang hajat perutnya.
Sejenak Ia terhenti dan berpikir sebelum Ia turun dari tangga yang
membatasi keberadaannya dengan kamar mandi karenanya berada di bawah kosan
kamar tempat Ia dn teman-temannya tinggal, berpikir dan mendobrak segala
ketakuatan lalu mengumpulkan keberanian untuk memecah kegelapannya.
Akhirnya, dalam beberapa menit keberaniannyapun terkumpul , entah karena darurat yang
memaksanya dengan ancaman si kuning di celananya atau Ia telah sadar bahwa
Tuhan selalu bersamanya.
Fa’er melangkahkan kaki dan berjalan sampai Ia bisa meraih pintu
kamar mandi dengan meraba jalan yang diselimuti gelap menakutkan.
“Aaaaarghhhh...
!!!!“,menggelengkan kepala sambil geramnya takut, lalu memegang erat gagang
pintu kamar mandi yang telah Ia raih, dan berharap bisa melewati menit- menit
buruk yang sedang Ia alami, Ia masuk, menutup pinti dan membuka celana yang
menutupi seluruh anggota tubuh bawah perutnya dengantergesa- gesa, mungkin Ia
sudah tidak kuat lagi menahan hajatnya walau badan Fa’er dengan otot- otot
kuatnya terkadang terlihat seperti Rain yang seorang bintang korea yang sukses
memainkan tokoh utama ninja dalam film yang penuh dengan tumpahan darah segar,
kepala terlepas dari tubuhnya, tubuh- tubuhnya yang tercincang- cincang membuat
orang- orang yang menontonnya tegang, jijik, dan terperangah melihat setiap
adegan di film Ninja assasin itu.
Setelah beberapa menit, suara adzan mulai terdengar di berbagai mesjid
yang berada dekat dari tempat dimana Ia berada, setelah selesai melaksanakn
keterpaksaannya dan bisa menyesuaikan dirinya dengan kamar mandi angker
tersebut.
Fa’er mengambil wudhu lalu naik melewati tangga untuk kembali ke
kamar dan melaksanakan shalat shubuh,
salah satu dari ibadah 5 waktu yang wajib Ia laksanakan dan yang tidak pernah
ingin Ia tinggalkan. Membangunkan kedua temanntya yang mash tertidur lalu siap
untuk menghadap robbnya. Do’a yang terucap selesai pelaksanaan shalat, dipenuhi
permohonan- permohonannya pada Tuhan yang selalu mendengar dan mengabulkan apa
yang Ia pinta.
“ Ya Robbii,
ampunilah dosa- dosa yang telah hamba perbuat, tunjukkanlah Aku pada jalan yang
benar, jangan biarkan Aku keluar dari jalan lurus yang kau telah bentangkan
pada hambaMu sebelumku. Sayangilah Aku dan kedua orang tuaku, mudahkanlah orang
tuaku dalam mencari rizqi halalMu, berikanlah mereka kekuatan untuk selalubisa
bersabar dn mensyukuri apa yang telah Kau berikan, Tuhanku yangmenguasi siang
dan malam, sesungguhnya kami telah mendzolimi diri kami jika kau tidak
memaafkan maka sesunggunya kami termasuk orang- orang yang merugi.”
Dalam untaian do’a yang Ia panjatkan dengan segenap pikiran dan
perasaannya berharap Tuhan mendengar dan mengabulkannya, seingat dengan ayat
yang Ia hapal “’Ud’uunii Astajib lakum”, Mintalah padaKu maka Aku akan
mengabulkannya.
Fa’er pun
mengakhiri do’anya pada waktu itu dengn membaca surat Al-fatihah lalu bersujud
syukur atas nikmat pagi yang Ia rasakan walau Ia harus melawan ketakutan pada
dirinya sebelum meraskan pendekatan diri
yang sangat tenang pada Robbnya.
Beberapa surat al-quran yang Ia baca dengan meresapi makna demi
makna pada setiap kata yang ada di ayat yang Ia baca. Pagi yang diawali dengan
penuh ketakuatan yang telah Ia lewati telah terhapus oleh indahnya pendekatan
sebagai hamba pada Robbnya, lalu Fa’er membaca beberapa buku untuk menambahkan
pemahamn tentang materi- materi kuliah yang menjadi kewajibannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.20, sungguh waktu yang tak terasa
mengalir bagai air , Matahari telah tersenyum menemani hari dengan terang yang manusia
harapkan.
Fa’er menyudahi apa yang Ia kerjakan, Ia nyalakan TV, menonton dan
mencari berbagai berita pagi itu tentang klub sepak bola inggris yang Ia sukai
(liverpool), Karena malem itu Ia tak semapt meonton pertandingannya melawan
Manchester city,
Seperyinya pagi
itu Ua puas dengan hasil yang liverpool torehkan saat melawan klub sekota
Manchester United itu dengan skor 3-0.
Sesekali Ia ganti channel untuk menonton Sponge bob di Global Tv dan beberapa acara pagi tiap
stasion televisi di sela- sela iklan acara Sport7 dan berita- berita olah raga
lainnya, tanpa lipa untuk melihat jadwal kuliahnya hari itu.
Jam 07.00, Ia
beranjak mandi tanpa meras takut, karena tidak hanya Ia seorang yang ingin
mengisi 3 kamar mandi saat itu walau gelap, Fa’er yang antri sambil mengobrol
dengan beberapa teman yang juga menunggu antrian, untuk sedikit menghilangkan kaluman
( Bosan dalam Bahasa Sunda).
Akhirnya Ia telah dapat gilirannya dan sedikit berbasa-basi untuk
mengakhiri obrolan dengan temannya, Fa’er yang saat itu harus berangkat kuliah
jam 08.40, akhirnya mandi karena Ia membutuhkan 15 menit untuk samapai di
kampus temapat dimana Ia kuliah. Setelah selesai mandi, Fa’er memilih- milih
baju yang akan Ia kenakan hari itu, karena mungkin Ia adalad salah satu lelaki
keren di kelasnya.
Fa’er meinggalkan kosannya melewati kamar mandi yang
masih terihat gelap dan mengganggu pemandanangan matanya walau matahari hadir
menyelimuti hari dengan terangnya.
Alangkah indah dan bahagianya sore itu, walau hujan yang membasahi
tubuh kekarnya dengan gelap awan-awan langit hitam. Sepulangnya kuliah,
terlihat 3 kamar mandi yang indah terang nan bersih tersenyum bahagia ketika
Fa’er ingin melewatinya dengan seribu tanya, siapa yang telah
merubahnya...?????
Walau hanya denngan
2 lampu pada 3 kmar mandi itu, sudah cukup membuat fa’er berpikir indah
tentangnya, karena malang yang melanda kamar mandi itu lelah berminggu-minggu
murung dilanda gelap,”kamu yang indah!!!”, Fa’er berucap.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar