Malang
Di mulai dengan kecurigaan,
sepertinya cinta tumbuh dari mata yang melihat,Membuka mata hati yang tertutup
beberapa lembar kulit tebal yang ada di dada. Masih ragu menamakannya apa,
namun sorotan mata yang ada mengisyaratkan segala yang berbeda. Kalimat-kalimat
yang tidak menemukan ujung paragraph masih bersandar di sela tenggorokan,
bergantungan pada lak-lakan yang tak terjamah tangan untuk dikeluarkan, lalu
membisu. Namun mencinta.
Entah juga harus bagaimana,
kikuk, mati dan memalukan. Melihatnya menjadikanku bodoh ditertawakan beberapa
teman. Seolah memang ingin melawan kenyataan yang memilukan seperti ini. Yang
aku tahu, hanya cincin saja yang melingkar di jarinya, yang orang sebut sebagai
tanda dia akan dimiliki orang yang menjadi pilot penerbang hidupnya,tanpa
sedikitpun terlihat bekas-bekas merah dilehernya, yang menjadi tanda ketidak
adanya jamahan bibir nafsu sang pilot entah di langit sebelah mana.
Lelah selalu seperti ini,menjadi
abu-abu yang bersanding dengan warna pink dan keanggunan ungu. Dalam sampul
yang masih kosong berisikan selembar daftar isi hidup yang menjadikannya peta
dimana harapan terbuka diberbagai halaman yang entah akan berapa banyaknya.
Sedikit berkomentar, mungkin disebut menggerutu tentang kursi-kursi kuliah yang
selalu berganti beda setiap hari, duduk mendengarkan celotehan dosen dengn
sopan disebut ceramah mengisi atau berbagi gizi intelektual ku. Tapi entah
menjadi apa aku nantinya,Melemahkan diri ini yang memang bertanding dengan
orang yang memberikannya cincin pengikat dia yang aku sukai.
Hari-hari lembut yang terisikan
beberapa SMS nya yang konyol menghibur, menyembunyikan kerapuhannya yang tak
bisa melawan keadaan yang jelas bukan keadaan yang Siti Nurbaya alami.
Malang ilalang yang tak bisa
pergi ke Malang walau hanya untuk memakan baksonya saat siang. Sebuah kalimat
penyayang yang menyampul dirinya saat ini,Bagaimana tidak? Hari- hari mudanya
seperti tidak sepenuhnya hanyut untuk dirinya yang masih disebut siang untuk
merasakan hal yang sebut saja tidak terlalu mewah untuk semangkok bakso dalam
kehidupannya, yang sebut saja tidak terlalu jauh untuk Malang, karena masih di
Indonesia, namun dia yang cantik nan malang.
Menemani dan menguatkannya saat
pagi, siang, dan malam. Mengaguminya untuk sebuah misi kehidupan yang besar
walau harus tertinggal dan menghilang. Saat ini yang ku tahu dia memang
membutuhkan apa yang tak membuatnya tidak terlalu cepat menghadapi malam, yang
gelap, tak jelas. Dan saat ini aku masih bersamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar